Catatan dari Semiloka Membangun Strategi Multi Pihak untuk Penurunan Kasus Kematian Ibu dan Anak di Provinsi Sulawesi Barat

Penanganan kasus kematian ibu membutuhkan inovasi, integrative, komitmen, dan progressif dalam penurunan kasus kematian ibu dan bayi. Berdasarkan data yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan pada tahun 2014 terjadi 42 kasus kematian ibu dan 313 kasus kematian bayi.

Isu kematian ibu menjadi isu yang yang selalu hangat untuk selalu didiskusikan. Kehangatan ini terlihat dalam semiloka Penurunan Kasus Kematian Ibu yang digagas oleh Yayasan Mitra Bangsa (Yasmib) Sulselbar), salah satu lembaga yang konsen dalam perbaikan Kesehatan anak dan Ibu di Provinsi Sulawesi Barat.

Ada beberapa permasalahan yang mendasar yang terjadi di Provinsi Sulawesi Barat diantaranya Masih tingginya kasus kematian ibu dan bayi, belum teratasinya permasalan gizi pada anak, tingginya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular dan tidak menular , belum adanya program integrasi yang inovatif dalam rangka penurunan kematian ibu dan bayi serta pemberdayaan.

Dalam sintesa anatomi kematian Ibu Provinsi Sulawesi Barat, waktu terjadinya kasus kematian Ibu paling banyak terjadi pada saat proses melahirkan 59,52%, Masa kehamilan 26,19% dan masa nifas 14,29%. Pada tahun yang sama penyebab terjadinya kematian terbesar disebabkan perdarahan 57%, Hipertensi 3%, ganggan system peredaran darah 3% dan penyebab lainnya 19%.

Ini menunjukkan adanya pekerjaan Rumah pemerintah dalam menemukan intervensi yang tepat guna, merumuskan langkah dan kebijakan Inovasi yang tidak biasa. Terkadang, persoalan geografis, wilayah menjadi “alasan abadi” yang selalu didengungkan. Yang jadi pertanyaan adalah apakah keadaan seperti itu harus dibiarkan?

Jawabannya tentu tidak?

Pancasila telah mengamanatkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Amanat ini tentunya wajib untuk direalisasikan dan dinikmati oleh masyarakat secara purna, merata dan adil tanpa membedakan antara daerah sulit dan mudah, kota dan desa serta Kondisi sulit membutuhkan strategi lebih maksimal dibandingkan dengan daerah yang tingkat aksesnya lebih mudah dicapai.

Strategi – strategi lain yang dapat dilakukan antara lain : Perlunya sosialisasi kesehatan ibu dan anak secara terstruktur, sistematis dan massif dengan melibatkan seluruh sektor yang ada; Peningkatan mutu bidan melalui pelatihan dan sertifikasi bidan, Penguatan kerja sama antara bidan dan dukun, Jaminan kesehatan secara menyeluruh bagi masyarakat miskin dan perlunya pelibatan sekolah tinggi kesehatan dalam penurunan kematian ibu dan bayi secara langsung

Selain itu sinergisitas bidan dan dukun yang sebagian besar belum berjalan secara optimal ditambah kepercayaan masyarakat terhadap dukun beranak yang masih tinggi sehingga masyarakat merasa nyaman ditolong oleh dukun dalam proses persalinannya, dibandingkan dengan melakukan persalinan di layanan kesehatan oleh bidan

Upaya penurunan kasus kematian ibu dan bayi tidak dapat diselesaikan tanpa integrasi yang inovatif. Kolaborasi berbagai pihak baik dari praktisi, akademisi, maupun pemerintah daerah diharapkan dapat terjalin dan memaksimalkan upaya penanganan masalah kematian ibu dan bayi. Penurunan kematian ibu dan bayi membutuhkan langka sistematis, terstruktur dan Masif dengan melibatkan pelaksana pembangunan dan penerima pembangunan dalam penyusunan model intervensi yang tepat.

Charge Your Spirit di kelas Inspirasi Mamuju#2 – Part 1

Alhamdulillah Tahun 2015 menjadi tahun kedua Pelaksanaan kelas Inspirasi mamuju. Sejak 2 bulan terakhir ini sibuk dengan persiapan pelaksanaan Kelas Inspirasi Mamuju#2. OPPO jadi Koordinator KI Mamuju” gumamku dalam hati saat teman2 alumnus KI Mamuju#1 belum ada yang bersedia jadi koordinator KI#2 Mamuju. Kebetulan diantara teman-teman Alumnus KI Mamuju#1, saya yang paling tua—-hehehehehe…

Antara Pekerjaan sebagai PNS di Dinkes Sulbar dan Kelas Inspirasi, semuanya menjadi prioritas. Membagi waktu antara pekerjaan dan hobby menjadi relawan dan turut bagian dalam partisipasi membangun pendidikan Indonesia di “Perguruan Kelas Inspirasi”

Kopi Darat (Kopdar) —Istilah yang kami berikan bagi rapat dan ketika para panitia berkumpul yang dilaksanakan tiap dua kali sepekan hampir selalu ditemani oleh gorengan yang disiapkan oleh teman-teman Panitia yang hadir. Bersama dengan orang – orang yang berbeda profesi, berbeda aktivitas namun satu dalam bingkai kesukarelawanan membuat saya happy and enjoy to do it.

Mulai dari menyusunan Time Schedule, Rekruitmen Panitia Relawan, kontak Ibu Hikmah- Koordinator KI Sulbar – Mas Dika dan Mbak Tinitis dari Indonesia Mengajar, Survei Sekolah, Kontak dengan KCD, Bupati Mamuju, Rekruitmen Relawan Pengajar dan Fotografer / Videografer sampai pelaksanaan 3 acara Puncak “ Briefing – Hari Inspirasi – Refleksi”

Kesemua dan hampir semua tahapan – tahapan dan langkah – langkah yang di lalui memiliki cerita tersendiri yang begitu menarik. Kebersamaan dengan relawan – Relawan Panita dan Pengajar dari Kelas Inspirasi Mamuju 1 Tahun lalu berlanjut terus sampai hampir 1 tahun ini. Muka yang berseri – seri, semangat yang terus membuncah, dan jiwa tanpa pamrih yang mereka miliki memberikan pelajaran kepada saya bahwa masih banyak kok orang-orang yang siap untuk suka rela dan turun tangan langsung dalam kerja – kerja sosial di kelas Inspirasi.

Mulai tanggal 5 Januari “Open Recruitment “ Volunteer Pengajar – Fotografer mamupun Profesional mulai dibuka di Website Kelas Inspirasi . Selai itu kami juga melakukan pembagian brosur kelas Inspirasi tiap pekan di Anjungan Pantai Manakarra dan Pada Pelaksanaan Free Car Day. Banyak belajar dari teman – teman Relawan. Ada Hamar, Miny Jie, Slamet, Sandy dengan semangat 45 yang mereka miliki, Om maul sekeluarga bersama dengan Volunterr Cilik Si Najilah, Mr Ontime – Dewa yang dengan Motor Supranya selau hadir paling cepat pada setiap aktivitas yang kami lakukan, Uci, Sri, Wahdah, Tabo’ dan Hasiyanti – Pemudi – pemudi yang dengan rasa tulus dan keikhlasan berbaur dengan rasa ingin berbagi, Tika, Aida, Miny dan Nina dengan semangat terus semoga berkarya lebih baik untuk bangsa dan Negara, Misna dan Nuby ayo terus bersama membangun mimpi anak Indonesia

Hari terus berlalu, Jam demi jam tak terasa, menit – demi menit berputar dalam alunannya dan akhirnya tersisa 10 hari lagi masa pendaftaran terbuka. Otak mulai diputar, tenaga terus maksimalkan dan berbagai macam ide muncul dari teman – temana pada saat kami kumpul.

“ Ayo kita buat surat ajakan khusus kepada profesional untuk terlibat dalam kegiatan Inspirasi kali ini” ujar salah seorang relawan pada saat itu.

Akhirnya kami buatlah Surat yang ditujukan kepada para profesional dan Institusianya mulai dari Kepolisian, TNI, Perkumpulan Perawat, SAR, Badan Bencana, Pemadam dan ajakan kepada Bupati Mamuju untuk terlibat dan turun tangan langsung dalam kegiatan kelas Inspirasi.

Formulir disiapkan namun ternyata 4 hari menjelang masa akhir penutupan pendaftaran kelas Inspirasi belum ada yang kembalikan formulir.

Akhirnya Jurus terakhir “mendatatangi langsung”, mulai dari Makodim, Respon yang luar biasa yang diberikan oleh Bapak Kasdim Mamuju dalam pelaksanaan Kelas Inspirasi dengan ajakan 3 orang anggota TNI untuk ikut dalam kegiatan kI Tahun ini. Selanjutnya berputar ke kantor Kepolisian, Kapolres Mamuju memberikan tugas kepada 8 anggotanya termasuk beliau didalamnya untuk terlibat dan turun tangan langsung mengajar anak- anak SD.

Relawan Pengajar Fix, yang jadi malasalah adalah kekurangan relawan Fotografer / Videografer. 3 Sekolah belum memiliki fotografer. Gimana yah caranya?…Dengan menggunakan HP maka teman- teman yang memiliki koneksi kenalan fotografer kemudian kami hubungi secara langsung. Mereka sangat ingin terlibat namun pada hari pelaksanaan Kelas Inspirasi ada kegiatan lain yang mereka lakukan..So ..telpon kesana kemari..BBM kenalan para relawan—Kontak Komunitas Jpeg, dan akhirnya tercukupilah relawan fotografer yang ada di 8 Sekolah yang akan kami kunjungi.

Pelaksanaan Briefing memasuki harinya..Persiapan segalanya..Mulai dari bersihkan Aula Diknas Kab mamuju , Sampai kontak langsung via sms dan Telpon kesiapan relawan untuk hadir pada saat briefing.

Melihat para relawan datang satu per satu memasuki ruangan. Mengingatkan kami pada lirik lagu Di Timur Matahari” dari W. R. Supratman :

Di timur matahari mulai bercahaya
Bangun dan berdiri kawan semua semua
Marilah mengatur barisan kita
Pemuda pemudi Indonesia

Dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya :

Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu

Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Dan pada saat briefing kami menyampaikan secara singkat tentang Kelas Insirasi secara umum dan pemutaran Video Kelas Inspirasi Mamuju#1. Dengan dipandu oleh Eby dan Okky dari Pengajar Muda yang telah datang dari arah 70 Km dari Malunda di Majene. Akhirnya teman – teman relawan bertemu dengan relawan lainnya, bertatap muka dengan para Kepala Sekolah dan Bapak KCD , H. Sabannar..Salut untuk Bapak KCD yang memberikan respon yang luar biasa dalam Pelaksanaan Kegiatan Kelas Inspirasi Mamuju.

Dengan Briefing diri ini terasa tercharger kembali dan Full semangat dengan 7 Sikap Dasar Kelas Inspirasi :

– Sukarela

– Bebas kepentingan

– Tanpa biaya

– Siap belajar

– Ambil bagian langsung

– Siap bersilaturahmi

– Tulus

Satu semangat… Satu Tempat… Satu Tujuan ….

Di Kelas Inspirasi – Membangun Mimpi Anak Indonesia 

Bangun pemudi pemuda Indonesia

Bangun pemudi pemuda Indonesia – Muh. Saleh – Relawan Panitia Kelas Inspirasi Sulawesi Barat

Bangun pemudi pemuda Indonesia; Tangan bajumu singsingkan untuk Negara Masa yang akan datang kewajibanmu lah; Menjadi tanggunganmu terhadap nusa; Menjadi tanggunganmu terhadap nusa;

Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas Tak usah banyak bicara trus kerja keras; Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih Bertingkah laku halus hai putra negri; Bertingkah laku halus hai putra negri – [Lirik Lagu Bangun Pemudi Pemuda Ciptaan: A. Simanjutak]

lirik lagu ini menjadi penggerak diri ini untuk tergerak dalam gerakan kelas inspirasi yang digagas oleh Gerakan Indonesia mengajar. Kelas Inspirasi sangat membuat saya tertarik untuk terbenam didalamnya. Sampai betul tenggela10300636_10202257519153559_2639789005306911668_nm dalam keasyikan dan nikmatnya berbagi kepada sesama sebagai salah satu wujud membayar utang kemerdekaan yang di wariskan oleh para pendahulu. Jika mereka para pahlawan dengan gagah berani menukar rasa aman dan kemerdekaan dengan harta dan Nyawa maka mengapa kita tak dapat melakukan hal serupa?

Kepadamu pahlawanku ; Kepadamu pahlawanku; Kami terima kasih; Kami terima kasih; Kami terima kasih; Terima kasih; Kepadamu pahlawanku semua

 [Terima Kasih Kepada Pahlawanku Lyrics – H. Mutahar]

 Dalam beberapa kesempatan, selalu ku sempatkan diri ini untuk membaca,, mencermati dan memahami sikap dasar yang harus dimiliki oleh seorang relawan yang ada di dalam keluarga kelas Inspirasi.

 “Ada 7 sikap yang selalu terlihat di antara pegiat Kelas Inspirasi. Bila ingin terlibat di dalamnya maka Anda diharapkan dapat bersikap” demikianlah tulisan dalam modul kelas Inspirasi yang sementara saya pegang ini.

 Sukarela – Semua pihak yang terlibat mengikuti kegiatan ini dengan penuh kerelaan hati. Mereka terlibat tanpa paksaan, baik sekolah maupun relawan/pegiatnya.

Bebas kepentingan – Kegiatan ini bebas dari relasi dengan institusi perusahaan/lembaga tempat pegiat bekerja, relasi dengan motif pemasaran perusahaan dan berbagai kepentingan nonpendidikan yang tidak relevan. Satu-satunya kepentingan yang ada adalah demi masa depan anak-anak Indonesia.

Tanpa biaya – Tidak ada biaya, baik yang dipungut dari relawan, sekolah atau siapapun. Tidak juga melibatkan pendanaan dari perusahaan atau lembaga lain. Satu-satunya pendanaan yang mungkin hanyalah iuran dari relawan/pegiat.

Siap belajar – Bersikap terbuka dan saling belajar, baik sekolah, pegiat/relawan dan semua pihak yang terlibat. Relawan terbuka belajar khususnya bagaimana mengajar di depan kelas, sekolah juga terbuka dengan masukan dari relawan khususnya tentang penyelenggaraan kegiatan ini.

Turun tangan langsung – Para pegiat dan juga pihak sekolah selalu siap turun tangan langsung, fokus pada aksi dan dampak bagi siswa dan kemajuan sekolah. Kesiapan turun tangan juga dibuktikan dengan siap mengambil cuti pada hari H dan siap untuk berkorban menyiapkan berbagai hal sebelum hari H.

Siap bersilaturahmi – untuk membangun silaturahmi, baik relawan maupun sekolah.

Terbuka – Relawan dan sekolah terbuka, saling rendah hati dan tulus untuk terus menjalin silaturahmi demi kemajuan sekolah dan pendidikan bersama.

Tulus – Semua pihak percaya bahwa ini bukan tentang diri relawan, bukan tentang para pengurus sekolah tetapi demi anak-anak Indonesia yang akan lebih percaya diri dan siap berjuang menyongsong cita-cita mereka.

 Sekali merdeka tetap merdeka; Selama hayat masih di kandung badan; Kita tetap setia tetap setia; Mempertahankan Indonesia; Kita tetap setia tetap setia; Membela negara kita – [Hari Merdeka (17 Agustus 1945) Lyrics Ciptaan: H. Mutahar]

Bagi Anda hanya satu hari cuti bekerja, namun bagi murid-murid itu bisa menjadi hari yang menginspirasi mereka seumur hidup. Berbagi cerita, pengetahuan, dan pengalaman untuk menjadi cita-cita dan mimpi mereka.Join Us : www.kelasinspirasi.org

Pengalaman Sehari Menginspirasi oleh Miny Jie

Senin, 9 Juni 2014.. Hari dimana saya dan teman-teman Relawan bersama-sama menuju sekolah tempat kami mengajar yang terletak di pulau seberang bernama Karampuang. Sampai disana, kami disambut meriah oleh teriakan anak-anak yang begitu semangat. Wah,,terbayang sudah akan dapat kelas yg seru nih nantinya… tapi, tunggu dulu!! Ternyata itu diluar dugaan. Sebelum saya memasuki kelas, ternyata guru disana sempat memberikan “wejangan” kepada anak-anak untuk tetap tenang dalam kelas. Dan alhasil,, suasana kelas benar-benar tenang.. tenaaaaaanggg bangeettt, kelewat tenang malah. Mungkin hanya suara jangkrik dan hewan-hewan di hutan belakang sekolah saja yg menjadi backsound kelas saat itu, “..kriikk, kriiikk, kriikk…”

Saya yang pada dasarnya suka dengan suasana kelas yg ramai (tapi tetap terkendali tentunya), tidak bisa membiarkan peristiwa ini terjadi (alaaahhh…). Awalnya saya grogi dan was-was, khawatir kalau-kalau apa yang saya sampaikan tidak dipahami oleh anak-anak, tapi rasa grogi dan was-was itu harus saya hilangkan saat itu juga melihat kondisi kelas yang begitu tenang alias tak ada respon sama sekali dari anak-anak.

Mulailah saya mencoba mengajak ketua kelasnya untuk berdiri di depan kelas. Pada saat itu, kelas pertama yang saya kunjungi adalah siswa kelas 5. Saya meminta kepada anak itu untuk menyebutkan nama dan cita-citanya di depan teman-temannya.

“Nama saya Angga. Saya bercita-cita ingin menjadi pemain bulu tangkis”.

“kenapa ingin menjadi pemain bulu tangkis?” tanyaku

“karena saya ingin membanggakan orang tua dan mewakili sulbar ke tingkat nasional,” jawabnya.

Kembali saya menanyakan kepada anak-anak itu tentang cita-citanya. Untunglah mereka mulai merespon pertanyaan saya. Ada yang ingin menjadi guru, dokter, polisi, polwan, hingga nelayan. Mulailah saya menceritakan profesi saya sebagai pegawai negeri, pengusaha, dan calon reporter (maaf, ini efek kebanyakan cita-cita sewaktu kecil, hehe..) kemudian memberikan semangat kepada mereka untuk terus mengejar cita-citanya.

Lain halnya ketika saya harus menghadapi anak kelas 3. Saya bingung bagaimana menjelaskan kepada mereka dengan bahasa yang lebih sederhana. Untuk menarik perhatian mereka, awalnya saya mengajak mereka untuk bernyanyi bersama. Yah, walau suara agak cempreng, setidaknya itu berhasil mencairkan suasana,, heheh…

Saya kemudian mengajarkan mereka bagaimana mengambil foto menggunakan kamera dan mereka antusias untuk mencobanya, bahkan berebutan… Aahh,, beginilah suasana kelas yang saya suka, penuh semangat untuk belajar. Tapi, ibu gurunya tiba-tiba datang dan menyuruh mereka semua untuk duduk kembali ke tempatnya. Spontan anak-anak langsung duduk diam dan rapi di kelas. Saat saya bertanya,”Ada lagi yang ingin mencoba?” mereka diam bahkan saling melirik teman sebangkunya. Ternyata mereka agak takut dengan ibu gurunya. But everything is gonna be alright. Setelah gurunya pergi, kami kembali bersenang-senang, heheh… (Semoga saat itu saya tidak mengajarkan hal yang salah kepada mereka, hehe…).

Di kelas 4, respon yang saya dapat juga sedikit berbeda. Saya mencoba metode pertama dengan menanyakan cita-cita mereka dan mereka pun menjawab. Alhamdulillah, mereka merespon. Dan rata-rata cita-cita mereka sama dengan kelas sebelumnya, ada yang ingin jadi guru, dokter, tentara, dan polisi. Kemudian, mulailah saya menceritakan profesi saya sebagai reporter. Untuk kembali mencairkan suasana, saya mengajak mereka untuk berakting, mencoba menjadi reporter di lapangan. Saya panggil tiga siswa secara bergantian untuk mewawancarai temannya mengenai apa yang mereka cita-citakan. Lucu tapi seruuuuu…

Setelah itu, closing ceremony pun kami lakukan dengan mengumpulkan anak-anak di lapangan. Setelah mendapat pengarahan dari salah seorang teman Relawan, anak-anak mulai menempelkan kertas yang bertuliskan nama dan cita-cita mereka. Kami lalu menempelnya di kelas mereka dengan harapan ketika mereka memasuki kelas, mereka akan membaca dan itu akan mengingatkan mereka bahwa mereka punya cita-cita yang harus diwujudkan sehingga mereka bersemangat dalam menuntut ilmu.

Itulah sepenggal pengalaman yang saya alami selama menjadi relawan pengajar. Ternyata mengajar di depan anak-anak itu susah yah, bahkan meskipun hanya bercerita mengenai profesi kita, kita perlu sabar dan perlu teknik khusus untuk menarik perhatian mereka agar tetap focus dan merespon pembicaraan kita. Salut buat guru-guru di Indonesia…

Dan walau tak ada satupun diantara mereka yang ingin berprofesi seperti saya,, saya tetap berharap semoga mereka terinspirasi dan termotivasi untuk melanjutkan pendidikan untuk meraih cita-citanya. Semoga mereka tetep semangat belajarnya hingga cita-cita mereka terwujud kelak, aamiin …

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2014-2013

Pada tahun 2013 IPM Provinsi Sulawesi Barat menempati peringkat ke dua puluh delapan secara nasional. Walaupun demikian Indikator Usia Harapan hidup Provinsi Sulawesi Barat menempati rangking dua puluh lima secara Nasional pada tahun yang sama.

Selama kurun waktu sembilan tahun, dari tahun 2004-2013, IPM Provinsi Sulawesi Barat meningkat 7,05 persen. Posisi IPM terakhir tahun 2013 berada pada level 71,41; sedangkan pada tahun 2004 adalah pada level 64,36. Peningkatan nilai IPM tersebut menandakan bahwa pembangunan manusia di Provinsi Sulawesi Barat dari segi kesehatan (umur harapan hidup), pendidikan dan ekonomi (pendapatan per kapita) semakin membaik dari waktu ke waktu.

Berdasarkan skala internasional, capaian IPM dikategorikan menjadi kategori tinggi (IPM ≥ 80), kategori menengah atas (66 ≤ IPM ≤ 80), kategori menengah bawah (50 ≤ IPM ≤ 66), dan kategori rendah (IPM < 50). Angka IPM Provinsi Sulawesi Barat tahun 2013 termasuk dalam kategori menengah atas.

Pencapaian pembangunan manusia yang tercermin melalui IPM bukan semata-mata hanya diukur dari tingginya capaian IPM saja. Namun juga perlu dikaji lebih dalam lagi sejauh mana kecepatan pembangunan manusia pada suatu periode tertentu. Proses pencapaian pembangunan manusia inilah yang menjadi poin penting karena secara filosofi untuk mencapai suatu rangking atau posisi yang baik diperlukan effort lebih. Oleh karena itu berkaitan dengan IPM, tidak hanya dihitung posisinya saja tetapi juga dihitung kecepatan pencapaian IPM atau biasa disebut reduksi shortfall. Reduksi shortfall menunjukkan perbandingan antara capaian yang telah ditempuh dengan capaian yang harus ditempuh untuk mencapai titik IPM ideal.

Selama periode tahun 2004-2013, seluruh komponen pembentuk IPM tumbuh positif . Komponen rata-rata lama sekolah (MYS) adalah komponen pembentuk IPM yang pertumbuhannya paling tinggi diantara komponen lainnya. Walaupun trend reduksi shortfall tumbuh positif, namun perlu ditingkatkan lagi terutama untuk komponen angka harapan hidup (AHH) dan angka melek huruf (AMH).

Cerita Rego di Kelas Inspirasi Polman

KELAS INSPIRASI SULAWESI BARAT – POLEWALI MANDAR – 9 JUNI 2014

rego, arsitek – kelompok 6, SDN 035 desa Bussu, kecamatan Tapango

…..Indonesia Raya, Merdeka, merdeka, Tanahku, neg’riku yang kucinta!. Indonesia Raya, Merdeka, merdeka, Hiduplah Indonesia Raya…..

[ refrain lagu INDONESIA RAYA – pencipta Wage Rudolf Supratman ]

Buat saya, rasanya hanya lagu Indonesia Raya saja yang selalu dapat membuat tenggorokkan ini tercekat dan susah mengeluarkan suara untuk menyanyikannya. Apakah ini rasa bangga yang amat sangat? Saya tidak tau. Namun yang jelas, saya sangat bangga sebagai bangsa Indonesia.

Saya merasa cukup beruntung, karena pekerjaan yang ditekuni, pernah ‘membawa’ saya melihat beberapa tempat di bumi ini. Namun sepertinya saya kurang beruntung, karena justru belum sempat melihat Indonesia secara keseluruhan.

Berangkat dari keinginan ini, maka saya berencana untuk menyempatkan diri mengunjungi daerah-daerah di Indonesia. Akan tetapi ketika direncanakan dan dipikirkan kembali, timbul pertanyaan: setelah mengunjungi dan melihat, lalu apa?

Pada bulan Mei 2014 lalu, seorang karyawan kantor minta ijin tidak masuk kantor karena akan mengikuti Kelas Inspirasi di Padang, Sumatra Barat. Setelah saya cari tau apa itu Kelas Inspirasi, timbul pemikiran dan jawaban atas pertanyaan saya tadi. Mengapa saya tidak mengunjungi dan melihat Indonesia sambil menjadi relawan Kelas Inspirasi.

Tanpa proses yang cukup lama, saya mendaftar melalui website Kelas Inspirasi di dua tempat sekaligus, Mamuju dan Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Karena begitu inginnya terpilih sebagai relawan, saya ‘nekat’ mendaftar di dua kota yang sebenarnya mengadakan kegiatan ini pada tanggal yang sama.

Pada tanggal 5 Juni 2014, saya mendapat SMS bahwa saya terdaftar sebagai relawan di Polewali Mandar, Sulawesi Barat dan saya segera memastikan keikutsertaan saya.

Pada tanggal 6 Juni 2014, saya mendapat email bahwa saya terdaftar (juga) sebagai relawan di Mamuju, Sulawesi Barat. Namun karena saya sudah memastikan di Polewali Mandar lebih dahulu, maka dengan berat hati saya mengundurkan diri dari Mamuju.

Sebenarnya saya berharap kedua kota ini melakukan kegiatan Kelas Inspirasi pada hari yang berbeda.

 

…..Sungguh Indah Tanah Air Beta. Tiada Bandingnya Di Dunia. Karya Indah Tuhan Maha Kuasa. Bagi Bangsa Yang Memujinya…..

 

[ bait 2 lagu INDONESIA PUSAKA – pencipta Ismai Marzuki ]

 

Kalau bukan karena Kelas Inspirasi, saya mungkin tidak akan pernah tahu ada tempat (kota) yang bernama Polewali Mandar di Indonesia.

Di masa sekarang, tidak ada kata tidak tahu dan tidak bisa. Semua bisa dilacak, dipelajari, dan ditelusuri di dunia maya. Begitu pula dengan bagaimana cara mencapai Polewali Mandar dari Jakarta. Semua informasi sudah ada hanya tinggal dikumpulkan dan dilaksanaan.

Pada hari Sabtu tanggal 7 Juni 2014 pagi, saya mulai berangkat dari tempat tinggal menuju bandara Soekarno Hatta untuk menggunakan pesawat pukul 13.00 ke Makassar. Menurut informasi, sesampainya di Makassar saya dapat lanjutkan perjalanan ke Polewali Mandar dengan Bis atau ‘panther’. Saya memutuskan untuk menggunakan bis saja karena saya tidak tahu dan yakin dengan jenis transport ;panther’.

Pukul 16.30 waktu Makassar, saya mendarat dan melanjutkan dengan taksi ke terminal bis. Jadwal bis yang ke Polewali Mandar adalah jam 21.00 jadi saya harus menunggu.

Tepat waktu yang dijadwalkan, bis berangkat. Di dalam bis, saya berkenalan dengan teman duduk sebelah saya. Beliau baru dari penugasan di Bandung dan akan pulang ke Mamuju. Setelah berbicara banyak hal dan hari juga makin malam, kami mulai tertidur di dalam bis yang cukup nyaman. Sesekali saya terbangun karena ada cahaya lampu. Terakhir kali saya terbangun, teman disebelah saya juga terjaga. Beliau kaget dan memberi tahu saya bahwa ini sudah di Majene dan Polewali Mandar sudah terlewat cukup jauh. Saya langung beranjak dari tempat duduk ke kondektur bis dan meminta untuk turun di Majene saja. Pada waktu itu, jam menunjukan pukul 4.00 pagi, hari Minggu.

Sekali lagi, kalau bukan karena Kelas Inspirasi dan ‘nyasar’, saya mungkin tidak akan pernah tau ada tempat (kota) yang bernama Majene di Indonesia.

Setelah turun dari bis, saya berjalan menuju sebuah mini market yang buka 24 jam di dekat situ. Saya lihat para pegawai sedang sibuk memasang tenda di luar toko. Saya menegur mereka dan menanyakan cara untuk mencapai Polewali Mandar dari situ. Ada beberapa pilhan, naik bis, ‘panther’, atau pete-pete (angkot). ‘Panther’ dan pete-pete baru beroperasi sekitar jam 7.00 pagi. Sedangkan bis sewaktu-waktu ada yang lewat dan mungkin bersedia mengangkut penumpang tambahan.

Sambil berisirahat, saya mencoba melihat posisi saya di GPS yang ada di telepon genggam. Ternyata saya terlewat sekitar 50km dari Polewali Mandar. Lumayan jauh.

Para pegawai mini market ini sangat baik hati. Hampir setiap bis yang lewat, mereka coba berhentikan dan tanyakan kesediaannya untuk mengangkut saya. Sayangnya tidak ada yang mau karena dianggap jaraknya terlalu dekat.

Akhirnya saya memutuskan untuk menunggu hari agak terang untuk melanjutkan perjalanan. Sambil saya beristirahat, tiba-tiba salah satu pegawai mini market tersebut menawarkan untuk mengantarkan saya dengan motornya. Dengan motor, 50km perjalanan akan memakan waktu sekitar 1 jam.

Jadilah akhirnya pada pukul 5.00 pagi, saya membonceng motor dari Majene menuju Polewali Mandar.

Dalam gelapnya dini hari, saya membayangkan, sepertinya pemandangan menuju Polewali Mandar ini pasti indah. Di atas peta, jalan ini agak menyusur tepi laut, jadi harusnya banyak yang bisa dinikmati. Namun sayang, pada waktu itu masih gelap. Di dalam gelap, saya melihat ke langit. Di langit begitu banyak bintang bertaburan. Banyak sekali. Pemandangan yang tidak pernah saya lihat di Jakarta.

Indahnya Indonesia….

Sekitar pukul 6.00 pagi, hari Minggu, akhirnya saya sampai di Polewali Mandar

 

Oh, ibu dan ayah, selamat pagi. Kupergi sekolah sampai kan nanti

Selamat belajar nak penuh semangat. Rajinlah selalu tentu kau dapat. Hormati gurumu sayangi teman. Itulah tandanya kau murid budiman

[ lagu PERGI SEKOLAH – pencipta Ibu Sud ]

 

Akhirnya tiba juga hari inspirasi, Senin, 9 Juni 2014. Satu hari sebelumnya para relawan diberikan arahan dan dibagikan kelompok oleh panitia. Saya mendapat kelompok 6 di SDN 035 desa Bussu, kecamatan Tapango bersama 4 relawan lain. Jaraknya sekitar 1 jam dari Kantor Bupati ke arah atas bukit dengan motor.

Kami ditugaskan untuk masuk ke kelas 2, 3, 4, 5 dan 6 dengan masing-masing kelas diberi jatah 25 menit.

Sebenarnya saya agak ragu apakah anak-anak SD ini tahu dengan profesi saya yaitu arsitek. Jika tidak tahu, maka saya harus mulai dengan menjelaskan apakah arsitek itu sebelum menjelaskan bagaimana menjadi seorang arsitek.

Ternyata benar, semua anak-anak tidak tahu apa arsitek itu. Bahkan mereka tidak kenal kata arsitek. Hanya ada satu orang di kelas 4 yang tahu arsitek sebagai orang yang suka menggambar.

Saya memulai penjelaskan secara sederhana tentang arsitek dan dilanjutkan dengan permainan ‘terbang keliling dunia’. Saya memang sudah menyiapkan alat peraga berupa gambar-gambar bangunan dari berbagai tempat di Indonesia dan dunia. Satu anak, secara bergantian, saya pilih untuk menjadi pilot untuk ‘menerbangkan’ satu kelas ke tempat lokasi tempat bangunan yang ada di gambar tersebut dengan diiringi lagu-lagu. Kelas menjadi meriah.

Ternyata, 25 menit itu terasa sangat lama buat saya yang belum pernah berinteraksi sebagai ‘pengajar’ anak-anak SD. Ketika berbicara di depan kelas, selalu terbayang-bayang kata-kata yang pernah saya baca di website Kelas Inspirasi :

Jika Anda sekarang berpikir bahwa mempertanggungjawabkan hasil kerja di depan dewan direktur adalah pengalaman presentasi paling menantang, cobalah untuk menjelaskan apa yang Anda kerjakan sehari-hari di depan 40-an murid-murid SD.  Anda akan berpikir ulang!

Yang pasti, baju saya basah karena keringat. Salut untuk para guru kita.

Pada acara penutupan di lapangan sekolah, saya selalu berusaha untuk berbaur dengan anak-anak dalam barisan. Mereka sangat senang didekati dan diajak ‘ngobrol’. Layaknya anak-anak,mereka sangat mudah akrab, seakan sudah mengenal sejak lama.

Yang paling mengharukan adalah ketika akan pulang, anak-anak menyempatkan mendekati saya dan saling berebut mencium tangan sebagai tanda pamit. Mudah-mudahan ini bukan pamit selamat tinggal tapi pamit sampai bertemu lagi.

Setelah beristirahat dan berbincang-bincang dengan guru setempat. Akhirnya kami bersiap pulang. Sebelum sampai ke tempat kami memarkir motor, ternyata ada beberapa anak-anak yang kembali ke sekolah setelah berganti baju. Salah satu diantaranya menyapa saya, “Pak Rego, sampai ketemu lagi ya…”.

…..Indonesia, tanah berseri, Tanah yang aku sayangi, Marilah kita berjanji, Indonesia abadi.

S’lamatlah rakyatnya, S’lamatlah putranya, Pulaunya, lautnya, semuanya, Majulah Neg’rinya, Majulah pandunya, Untuk Indonesia Raya.

[ bait 3 lagu INDONESIA RAYA – pencipta Wage Rudolf Supratman ]

Saat ini saya sudah di Jakarta. Sudah memulai segala rutinitas. Sebelum pulang, para relawan sudah saling bertukar media komunikasi dan media sosial.

Akun Facebook saya tiba-tiba bertambah banyak kawan yang berada di Sulawesi Barat. Baik para relawan dan panitia di Polewali Mandar, atau kawan lain yang belum pernah bertemu. Banyak foto, video , dan komentar yang diunggah ke Facebook.

Foto-fotonya menyenangkan, video-videonya mengharukan, komentar-komentarnya membanggakan. Namun kembali saya bertanya pada diri sendiri. Lalu apa? Apa saya cukup bermanfaat untuk anak-anak SDN 035 desa Bussu Kecamatan Tapango?

Saya tidak pernah tau. Tapi saya berharap, ada sedikit kesan yang tertinggal di hati sedikit anak-anak di sana.

Saya bermimpi, 20 tahun lagi, ada seorang arsitek terkenal dari Indonesia yang berkata, “Saya menjadi arsitek karena dulu ada orang botak mengaku dirinya sebagai arsitek dari Jakarta dan datang ke SD saya di desa Bussu, kecamatan Tapango, Polewali Mandar, Sulawesi Barat”.

…..Di Sana Tempat Lahir Beta. Dibuai Di Besarkan Bunda. Tempat Berlindung Di Hari Tua. Sampai Akhir Menutup Mata.

[ refrain bait 1 lagu INDONESIA PUSAKA – pencipta Ismai Marzuki ]


Terima kasih untuk Panitia Kelas Inspirasi Sulbar – Mamuju dan Polewali Mandar, para Relawan, para Guru dan para murid SDN 035 desa Bussu kecamatan Tapango, dan karyawan Indomaret, Majene yang telah membantu kelancaran saya menjadi relawan Kelas Inspirasi Sulbar – Polewali Mandar.

 

Untuk para bintang-bintang kecil di gunung

Penulis : Irwanti “Fia” Hadnus – Relawan Kelas Inspirasi Sulawesi Barat – Polewali Mandar#1

“Ilahi telah memberi kita hidup dengan Cuma-Cuma. Ibu pertiwi memberi kita tumpangan berdiri di atas perutnya dengan Cuma-cuma. So, mari kita membayar kehidupan dan tumpangan ini, juga dengan Cuma-Cuma. Cuma-Cuma yang bukan sekedar Cuma”

Saya baru dua bulan resmi domisili di Polewali Mandar. And you know, hal yang paling menyedihkan adalah loe hidup tanpa teman di satu tempat. Yap, meskipun tidak murni sendiri karena tinggal serumah dengan senior. Tapi, hidup berdua saja tidak cukup, kurang rame dan seru. Monoton. Beda kasus kalau yang couple (katanya sih begitu, saya juga belum pernah survei mengenai ini,hehe).

Selama dua bulan di sini karena tuntutan pekerjaan, kegiatan saya hanya berangkat kantor pagi dan pulang ke rumah petang. Hanya diselingi jogging di jalan tepi sawah, kayak anak hilang sendirian saat weekend. Tapi part jogging di weekend tidak pernah kusesali, karena itu adalah saat-saat yang keren dalam satu pekanku. Jogging sambil menghirup aroma-aroma kehidupan dari hasil kerja indah tangan-tangan tangguh, Petani.

Sekitar sebulan lalu seorang senior yang bertugas di BPS Provinsi Sulawesi Barat, sebelumnya pernah tugas di Polewali Mandar memberi info tentang Kelas Inspirasi. Saya disuruh tanya ke Mbah google untuk lebih jelasnya. Like fans page-nya di facebook. Waktu itu saya langsung tertarik. Suing..suing berselancarlah saya di dunia maya. Tapi, sayang sekali kurang fokus waktu itu. Ada banyak iklan lebih penting yang minta di selesaikan (red: kerjaan negara). Alhasil, saya tidak menemukan yang kucari. Terabaikan. Hingga tanggal 2 Juni 2014, saya diberi tugas oleh big bos membuat kuesioner monitoring survei yang sedang berjalan. Jam istirahat otak sudah sangat jenuh, akhirnya buka Mas facebook.

Saat asyik chat dengan salah satu Widyaiswara ketika prajabatan kemaren, saya ditanya tentang agenda weekend kali ini. Jujur belum ada. Tiba-tiba teringat dengan kelas inspirasi tempo hari. Lansung search. Jeng..jeng. Ketemu. Dan ternyata deadline untuk pendaftaran relawannya tinggal 2 atau 3 hari. Tanpa berpikir lebih jlimet lagi se-jlimet rumus-rumus statistik. Saya langsung daftar setelah membaca profil KI dan beberapa testimoni.

Hari kamis, saat saya masih dalam kondisi pemulihan jiwa (nah loh. Bukan, maksudnya pemulihan setelah collapse karena kelelahan dua bulan masa shocking culture), sekitar jam 19.30 WITA, saya mendapatkan sms dari salah satu panitia KI Sulbar Polewali Mandar. Isinya pernyataan di terima sebagai relawan pengajar. Saya memastikan dulu jadwal pelaksanaan hari inspirasinya. Ternyata pelaksanaannya bertepatan dinas luar, tapi masih sekitaran Kabupaten Polman. Deal. OK. InsyaAllah saya bisa.

Hari minggu 8 juni 2014, kami kumpul untuk briefing. Ketika masuk ke ruangan, saya melihat beberapa orang sedang memegang bundelan kertas. Semacam modul. Saya penasaran itu apa? Ternyata itu ada dalam attacment email yang dikirim. Hahay, karena keseringan di daerah dengan sinyal timbul tenggelam kayak di sapu ombak. Alhasil, email hp tidak sincron dan tidak terdeteksi. Jujur sampai detik saya menulis ini belum liat bagaimana rupa dalam email itu.

D-Day. Hari ini 9 juni 2014. Kami yang terbagi dalam 8 tim langsung menuju lokasi masing-masing. Saya berada di tim terakhir. Ini pun karena hasil nego. Menyedihkan sekali ketika orang-orang sudah mendapatkan tim masing-masing, dan nama saya tidak ada di tim mana pun. Wahahay. Akhirnya saya minta ke panitia untuk di masukkan ke tim paling jauh dan paling sulit medannya kalau bisa. Jiwa petualangnya sedang mengubun-ubun. Dan saya ditakdirkan di tim 8. MI DDI Biru. Lokasinya di Kecamatan Binuang, tapi medannya lumayan berat. Naik gunung dengan kondisi jalan licin. Tapi, di sinilah serunya. Fantastic, wonderful. Kanan kiri gunung dan lembah. Karena tingginya, laut sampai terlihat dari atas sana.

Sepanjang jalan disambut dedaunan hijau. Rasanya menyegarkan sekali bisa menghirup aroma tanah yang basah bercampur aroma klorofil dedaunan. Saat seperti ini sudah pasti akan membuka masker penutup hidung. Menarik nafas panjang membiarkan udara segar memenuhi kantung-kantung paru-paruku. Menahannya sejenak untuk menikmati saripati alam. Sekedar tambahan info nih, menurut salah satu instruktur selfdefense yang pernah kutemui, menghirup nafas dalam-dalam bisa menjadi sumber tenaga dalam yang besar.

Perjalanan menuju ke sekolah tujuan berbagi inspirasi memang fantastic, tetapi bukan hanya itu. Semua yang di sana juga fantastic bagi saya. Kondisi sekolahnya terus terang jauh dari bayangan saya. Meskipun kondisi sekolah seperti MI DDI Biru bukan hal asing juga, tapi tetap saja sempat menampar masa kanak-kanak saya. Maklum saja, terbiasa hidup di daerah dataran rendah dengan kondisi tanah kering berpasir dan sekolah dengan halaman luas. Sehingga di jam istirahat bisa main kejar-kejaran bebas di halaman sekolah tanpa perlu takut becek. Sedih membayangkan bagaimana mereka menghabiskan masa-masa bahagianya dengan halaman kecil dan becek seperti itu? Tapi begitu melihat binar di mata mereka, semua hipotesisku tadi tertolak. Mereka bahagia meski dengan kondisi seperti itu.

Berdasarkan informasi awal, jumlah keselurahan siswa di MI DDI Biru sekitar 60 orang. Akan tetapi, setibanya di tempat ternyata yang bisa hadir hanya sekitar 48 orang. Kelas 1 sampai 6. Rencana awal kami membagi mereka menjadi 3 kelas batal. Tidak memungkinkan. Akhirnya diputuskan membagi 2 kelas saja. Sementara relawan pengajar ada 4 orang. Dua relawan pengajar masuk sesi pertama. Sementara saya masuk sesi ke dua. Sambil menunggu sesi pertama selesai, saya mengerjakan beberapa properti yang belum sempat diselesaikan semalam.

Sesi pertama berakhir. Yahooooo, ini saatnya saya masuk kelas. Kelas yang akan saya tempati berbagi ini gabungan kelas 1 sampai 3. Adik-adiknya masih kecil-kecil. Imut-imut. Aiiii,, kegemesanku terhadap anak kecil tiba-tiba ON. Beruntung tidak sampai mencubit pipi mereka satu-satu. Kondisi kelas sudah mulai semangat rupanya. Kakak relawan yang pertama masuk sudah berhasil membangun suasana. Pekerjaanku jadi lebih mudah kalau seperti ini. Itu hanya ada dalam pikiranku ternyata.

Menghadapi adik-adik kecil polos dan jujur ternyata tidak segampang menghadapi peserta di sebuah diklat yang isinya orang dewasa. Orang-orang dewasa, ketika kita meminta perhatian dan berbicara mereka bisa memaksakan diri untuk fokus. Tapi, adik-adik yang masih murni ini tidak demikian.

Kelas saya mulai. Ketika saya mengatakan “hallooo”, mereka semua sudah paham harus menjawab apa. Mereka menjawab dengan “Haiii”. Saya sengaja membangun antusiasme mereka dengan berkali-kali mengatakan “halloooo, hallooo ada orang di sini??” semakin lama, mereka semakin kompak dan antusias. Great. Ini sudah saatnya masuk ke tahap berikutnya.

Selanjutnya memperkenalkan diri dulu. Setelah saya memperkenalkan nama, giliran mereka. Satu persatu yang kutunjuk menyebutkan namanya dan diikuti oleh teman-temannya. Ini biar mereka merasa diperhatikan. Perkenalan selesai. Next step. Saya membuka gulungan kertas yang semalam saya corat-coret dengan berbagai warna. Isinya berjudul “Kelas Inspirasi”. Selanjutnya di sana ada nama saya dan tempat saya bekerja sebagai statistisi. Tepat di samping nama saya, ada gelar untuk mereka. Adik-adik yang kuberi gelar Anak-anak Bintang. Semuanya tertarik dengan apa yang tertulis di sana. Tetapi, sebelum memperkenalkan profesi lebih lanjut saya ingin membekali mereka sebuah brain gym sederhana dulu. Untuk melatih psikomotorik mereka. Brain gym sederhana ini saya dapatkan dari seorang Kakak penggiat pendidikan sewaktu diklat prajabatan. Oleh-oleh dari negeri Sakura dan negeri Gingseng (Jepang dan Korea) yang sudah dimodifikasi. Di kedua negeri itu, sebelum anak-anak masuk ke kelas mereka akan diberi senam otak dulu sekitar 5 sampai 15 menit. Itu dimaksudkan agar mereka berada di gelombang otak alfa. Meski sebenarnya anak-anak usia di bawah 10 tahun gelombang otaknya masih berada di zona Alfa. Senam otak yang kami lakukan sederhana, hanya terdiri dari 4 gerakan dengan namanya masing-masing. “tonji-tonji, cha-cha, yim-yim, tolah-toleh, cha-cha”. Mereka semangat ingin mengikuti saya. Senam ini diulang berkali-kali. Tapi, masih banyak yang belum bisa menghafal. Saya maklum saja. Ini hal baru bagi mereka.

Sekarang masuk ke inti dari alasan saya ada di depan mereka. Membagi informasi tentang siapa dan apa yang saya lakukan. Ketika memberi tahu bahwa saya seorang statistisi di Badan Pusat Statistik. Mereka semua melongo. Raut wajah mereka yang sepertinya baru pertama kali mendengar ada profesi statistisi, semacam sedang mengatakan “ELS”. “Emang Loe Siapa?”. Hahaha, menampar sekali rasanya. Jleb. “Aaaa, Mama pengen pulang aja”.

Sebelum saya sakit terlalu dalam (lebay). Mencairkan suasana saja dulu dengan menanyakan apa cita-cita mereka. Satu per satu dapat giliran. Jika saya proporsikan profesi yang mereka inginkan seperti ini: Laki-laki 40 persen Tentara, 40 persen Polisi dan 20 persen pemain bola; perempuan 80 persen guru, 15 persen dokter dan 5 persen Polwan. Jadi profesi yang mereka inginkan hanya ada 5 jenis.

Ini sebuah tantangan besar bagi saya untuk memperkenalkan apa itu statsitisi. Kembali mencoba menyentuh penalaran sederhana mereka. Menganalogikan profesi saya dengan hal-hal yang dekat dengan mereka. Yaitu matematika. Tapi sepertinya mereka tidak bakal ada yang menginginkan profesi ini begitu saya menyebut matematika. Terang saja, bagi sebagian anak-anak matematika itu mematikan. Hahaha salah analogi saya. Kesalahan cara mengajarkan matematika sudah menjadikan saya tumbal di hari inspirasi ini. Padahal kalau matematika diajarkan dengan melibatkan alam sekitar dan hal-hal sederhana, akan sangat menyenangkan. Ayo adik-adik kita menghitung semua rumput yang ada di halaman sekolah, kita kalikan dengan rumput yang ada di sepanjang jalan. Langsung balik kanan, kabur pulang ke rumah semua adik-adiknya.

Mendengarkan cita-cita mereka dan memaparkan profesiku sudah. Sekarang saatnya memberi mereka gelar. “Anak-anak Bintang”. Semua jadi antusias kembali. Di selembaran kertas tadi ada janji mereka untuk negeri ini. “Kami anak-anak bintang BERJANJI akan terus bersinar demi negeri kami tercinta, INDONESIA”. Ketika kutanya siapa yang ingin menjadi pemimpin membacakan ikrar anak-anak bintang di ruangan ini? Salah satu di antara mereka lansung tunjuk tangan. Maju. Kita membaca ikrar ini dengan sikap yang kuajarkan. Posisi siap dengan tangan kanan terkepal di dada dan tangan kiri terkepal di belakang. Sikap siap ala Shingeky No Kyojin. Salah satu anime yang paling kusukai. Hahaha, beginilah kalau pengajarnya pecinta anime. Saya jadi merasa punya pasukan pembasmi Titan. #salahfokus.

Waktu 30 menitku hampir habis, kami gunakan sisanya untuk bernyanyi. Saya menanyakan mau menyanyi lagu apa. Tiba-tiba bangku kedua dari belakang pojok sebelah kiri ada yang nyeletuk “Indonesia Pusaka”. Wah, fantastic. Sangat pas dengan suasana yang kita bangun. Selain itu, lagu ini yang membuat saya selalu ingin pulang ke Sulawesi sebagai bagian dari Indonesiaku, ketika merantau ke tanah Betawi. Saya meminta adik yang tadi mengusulkan untuk jadi pemimpinnya. Dia malu-malu, tapi saya minta teman-temannya untuk menyemangati. Akhirnya dia mau. Jadilah kami mendendangkan lagu karya Ismail Marzuki ini bersama-sama.

Sebagai penutup saya kembali menanyakan tentang cita-cita mereka sembari membagikan kertas untuk menuliskan cita-citanya. Hanya ada satu orang yang ingin jadi seperti saya. Asik, ada yang ingin tenggelam dengan rumus-rumus bersama saya. Selain itu, semua masih teguh dengan cita-cita awal. Tetapi, yang menarik ditengah-tengah diskusi kami ada yang selalu tunjuk tangan ketika saya bertanya siapa yang ingin jadi pemimpin. Dia adalah calon presiden Indonesia masa depan. Semua menuliskan cita-citannya di kertas dan menempelkannya dengan cara melompat pada kertas karton yang kusematkan di dinding. Melompat. Melompat. Melihat mereka seperti itu membuat saya menyadari bahwa mereka benar-benar anak-anak bintang yang akan menepati janjinya.

Waktu yang hanya 30 menit dengan encourage yang lumayan panjang karena proses menempelkan kertas cita-cita, berakhir juga. Cita-cita mereka, semoga semesta memeluknya. Membuatnya terwujud dengan cara yang paling ajaib. Seperti cara semesta yang telah membuat impian saya memiliki sahabat-sahabat kecil terwujud hari ini.

Beberapa hal yang menjadi perhatian khusus bagi saya adalah tentang cita-cita mereka. Menyadari bahwa itu bukan murni cita-cita mereka. Itu adalah cita-cita dari lingkungan sekitar yang dititipkan dalam alam sadar mereka. Hanya profesi-profesi seperti itu yang pernah mereka kenal. Mereka belum mengenal lebih banyak profesi lain di luar sana. Kelas Inspirasi adalah jembatan yang sangat istimewa untuk mereka mengenal dunia luar.

Berdasarkan pengamatan ketika di kelas, mereka semua sesungguhnya punya potensi-potensi yang sangat besar. Potensi yang tersimpan di pojok alam bawah sadar mereka. Potensi yang belum tergali:

–       Ketika saya bertanya ada yang ingin jadi pemimpin, salah satu di antara 24 anak yang ada di ruangan itu akan selalu mengangkat tangan. Itu adalah potensi dia yang sesungguhnya. Kelak adik ini akan menjadi seorang pemimpin yang hebat.

–       Ketika kutanya kita akan bernyanyi apa. Ada yang langsung mengutarakan pendapat dan dengan sdikit rayuan ia mau jadi pemimpin teman-temannya bernyanyi. Ia adalah calon konduktor besar di masa depan mengalahkan Noorman Widjaja. Konduktor kelas dunia asal Sumatera.

–       Ada yang ketika di kelas kerjanya suka mencolak-colek temannya. Sesungguhnya anak ini berpotensi untuk menjadi seorang public figur hebat dengan relasi yang banyak di kemudian hari. Dia adalah anak sanguin yang ingin selalu di perhatikan.

–       Ada juga yang malu-malu duduk di pojokan. Bisa saja ia kelak menjadi seorang profesor. Ini karena saya ingat dengan salah seorang teman yang tipe serupa, duduk di pojokan diam. Begitu ditanya “ngapain, diem-diem aja dari tadi?” dengan santai tanpa ekspresi dia jawabnya “Lagi mikir”. Wahahaha. Berat.

–       Waktu saya membagikan kertas cita-cita, ada yang sibuk menunjuk temannya yang belum kebagian. Sibuk menyuarakan ketika temannya tidak punya alat tulis. Anak ini sangat berbakat menjadi seseorang yang bekerja di bidang manajemen. Mungkin bisa saja dia kelak menjadi seorang event organizer yang hebat dan memiliki jaringan luas.

Setiap adik-adik ini memiliki potensi yang berbeda. Jadi kelak tidak akan ada 40 persen bahkan 80 persen itu, jika mereka sudah mengerti passion-nya. Panggilan hidupnya. Saya menantikan saat itu. Saya menantikan bintang-bintang yang bersinar dari gunung di salah satu sisi Polewali Mandar ini.

********

Untuk para bintang-bintang kecil di gunung sana:

Jangan pernah mengerdil karena lingkunganmu

Jangan cabik-cabik kami pejuang peradaban sebelummu dengan asa yang hilang

Kalian adalah anugrah besar yang di titipkan Ilahi untuk semesta ini

Kalian adalah pilar-pilar yang akan berdiri kokoh memegahkan negeri ini

Kalian adalah mercusuar-mercusuar yang menerangi jalan pelaut tersasar

Tetaplah teguh dan setia pada mimpi-mimpimu

Jadilah seperti gunung dan pantai yang mempesona di negeri kita

Gunung yang bersedia menonjol diterpa badai agar bumi tetap stabil

Pantai yang teguh, sabar dan setia, meski ombak berkali-kali menerjangnya

Tidak ada jaminan untuk kalian akan hidup dengan mudah nantinya,

Tapi pastikan kehidupan yang sekali ini berarti.

Agar perut bunda pertiwi tempat berbaring di akhir bangga memelukmu.

********

Untuk sahabat-sahabat relawan:

Mari lanjutkan kerja indah kita ini!!!

Salam Inspirasi!!!!

“Hari yang indah itu ketika loe ngga pernah menyesal sedikit pun untuk hal-hal yang loe udah lakuin di hari itu”

Sekali jadi panutan seumur hidup

Share Your Konwledge, Share Your Information to better life

Hal inilah yang membuat saya tertarik untuk bergabung ke Kelas Inspirasi. Informasi kelas inspirasi saya dapatkan dari wall facebook seorang teman. Coba mendaftar di Wilayah Sulsel kota Palopo. Sengaja memang saya mengambil kota Palopo karena ada beberapa perimbangan :

  1. Saya belum pernah ke palopo
  2. Palopo adalah kota terjauh dari kota Mamuju yang menyelenggarakan KI di Sulsel

Sampai di kota Palopo dengan menggunakan Bus Bintang Marwah saya langsung menuju ke Hotel Risma untuk istirahat sebelum mengikuti briefing malam nanti.

Sayang sekali karena capek saya akhirnya ketiduran pada saat briefing dilaksanakan saya ketiduran dan tidak sempat mengikuti briefing KI yang dilaksanakan di  Auditorium Saokotae  Rujab  Walikota Palopo di jalan veteran.

Sedih rasanya…Galau……. Jauh-Jauh datang ke Palopo dan ketiduran..

Akhirnya besok pagi saya harus segera bersiap-siap untuk bertemu dengan relawan dan mendapatkan Tim yang bertugas di SD Padanglambe. Saya bersama dengan Pak Aris Suciadi (Seorang tentara), Pak Salahuddin (Kadispora Palopo) dan pak Jun Fotografer dan Videografer menuju ke Luar kota Palopo memasuki jalan yang sedikit sempit dan berbatu.

Mendapat sambutan yang hangat dari Segenap jajaran sekolah yang lebih banyak dihuni oleh anak-anak dari Keluarga Petani dan Tukang becak ini membuat saya semakin senang. Hawa inspirasi sudah mulai muncul.

Kelas VI menjadi kelas pertama..

Wajah dan semangat yang berbinar-binar menjadi penyemangat bagi saya untuk segera dapat memulai..

Hallo——-

Hallo dengan lebih keras oleh anak-anak ini.

Setelah memperkenalkan diri saya mulai menggali cita-cita mereka. Hanya ada dua cita-cita yang ada dilkelas ini. Laki-laki semuanya mau menjadi guru dan perempuan semuanya menjadi Dokter. Hal ini bukanlah sesuatu yang aneh. Anak-anak SD menurut kami pribadi hanya mengenal sedikit saja mengenai profesi da cita – cita yang ada. Dokter, Polisi, guru, pilot hanya sebagian kecil saja yang mereka tau tentang profesi yang ada.

Kelas inspirasi menjadi media untuk berbagi pengalaman dan sharing kepada anak-anak lebih dini untuk mengenalkan profesi yang ada dan bagaimana jalan untuk mencapainya. ini penting dilakukan sehingga anak-anak tesebut sudah memiliki gambaran tentang perencanaan cita-cita yang di inginkannya.

Kelas Inspirasi….

Memberikan semangat baru kepada kami untuk belajar bersama dengan relawan

Beragam profesi yang ada..dengan titik “Sukarela” menjadi sesuatu yanga agak jarang ditemukan di Negeri Ini..

So—Bagaimana dengan anda kawan..Yuk Join ke Kelas Inspirasi berikutnya..

Ayo kawan hanya sehari sekali dalam hidup anda untuk menginspirasi mereka seumur hidup

Langkah menjadi panutan. Ujar menjadi pengetahuan. Pengalaman menjadi inspirasi.

Mari berbagi cerita yang dapat menumbuhkan cita. Jejak langkah profesimu sebagai awalnya. 
Sudah saatnya para profesional turut mengambil peran dalam pendidikan anak bangsa.

Kondisi Malaria Sulawesi Barat

Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang upaya pengendaliannya menjadi komitmen global dalam Millennium Development Goals (MDGs). Malaria disebabkan oleh hewan bersel satu (protozoa). Plasmodium yang ditularkan melaui gigitan nyamuk Anopheles. Wilayah endemis malaria di Sulawesi Barat  pada umumnya adalah desa – desa terpencil dengan kondisi lingkungan yang tidak baik, sarana transportasi dan komunikasi yang sulit, akses pelayanan kesehatan kurang, tingkat pendidikan dan social ekonomi masyarakat yang rendah.

Direktorat Jenderal PP&PL Kementerian Kesehatan telah menetapkan stratifikasi endemisitas malaria di suatu wilayah di Indonesia menjadi 4 strata yaitu:Endemis tinggi bila API > 5 per 1.000 penduduk; Endemis sedang bila API berkisar antara 1 – < 5 per 1.000 penduduk; Endemis rendah bila API 0 – 1 per 1.000 penduduk; Non Endemis adalah daerah yang tidak terdapat penularan malaria (Daerah pembebasan malaria) atau API = 0.

Guna mencapai target yang di canangkan secara nasional maka ada beberapa program yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat diantaranya sebagai berikut :

  1. Gebrak Malaria yang bertujuan untuk memastikan 80% dari masyarakat yang beresiko terjangkit malaria mendapatkan perlindungan melalui metode pengendalian vector yang sesuai keadaan setempat; 80% penderita malaria didiagnosis dan diobati dengan menggunakan antimalarial yang adekuat; 80% perempuan ibu hamil didaerah penularan yang stabil mendapat perawatan pencegahan berkala (IPTp); dan beban akibat penyakit malaria berkurang sampai 50% dan pada tahun 2015, penyakit dan kematian akibat malaria berkurang 75 persen dibandingkan dengan tahun 2005, tervapainya target MDG dan intervensi efektif diterapkan secara universal
  2. Penelitian Malaria terpadu kerjasama Universitas Hasanuddin dengan Dinas Kesehatan Sulawesi Barat. Penelitian ini dilaksanakan di kabupaten Mamuju yang merupakan daerah endemis malaria tinggi di Sulawesi Barat dan berlangsung selama 3 tahun mulai 2010 – 2012.

Di Sulawesi Barat terdapat dua kabupaten yang termasuk dalam daerah endemis tinggi yakni Mamuju dan Mamuju Utara. Kondisi wilayah yang ada menjadi salah satu faktor tingginya kasus malaria di kedua wilayah tersebut di bandingkan dengan wilayah lain di Sulawesi Barat.

API Sulawesi  Barat pada tahum 2010 adalah 6,7 per 1.000, mengalami penurunan menjadi 5,9 per 1000 penduduk Sulawesi barat pada tahun 2011 dan menjadi 2,6 pada tahun 2012.  Di hubungkan dengan target MDGs angka API Sulawesi Barat masih sangat tinggi. Begitupula dengan target nasional yang yang menargetkan jumlah kasus kejadian malaria menjadi kurang dari 1 per 1000 kasus malaria positif yang ditemukan melalui pelayanan rutin. Sulawesi Barat mesti memacu diri untuk mencapai target nasional Indonesia bebas malaria tahun 2030