No comments yet

Cerita UX Design di DILO Makassar

Lepas tugas di Puskesmas Tamalanrea  bergegas segera dari kursi empuk warna biru yang menjadi kursi kerja saya selama kurang lebih 1 bulan terakhir.

Hujan deras tidak menggoyahkan semangat untuk jalan ke DILO Makassar. Hujan yang lagi bersahabat dengan kota daeng beberapa hari terakhir membuat jalanan penuh dengan kendaraan yang berdesak-desakan merayap pelan dari Perintis ke Urip Sumoharjo.  Akhirnya setelah perjuangan penuh kesabaran sampailah di gedung MMDV Makassar di Jalan Pettarani. Nampak puluhan orang duduk di lounge mengikuti materi tentang literasi digital yang disampaikan oleh satu narasumber yang expert dibidangnya.

Saya segera menuju ke Sprint room untuk membahas kelanjutan UX design yg kami diskusikan sabtu lalu di tempat yang sama dan diruangan yang berbeda. Ini adalah pengalama pertama untuk melakukan research sebagai UX Design.

Tema sentral yang di bahas adalah permasalahn antrian yang panjang di salah satu toko swalayan ATK besar di Makassar.

Bang Eca dengan metode Empati Map memberikan kesempatan kepada kami berlima untuk dapat “berdiri di atas sepatu orang lain” dalam melihat sebuah problem yang ada dilapangan.

Empati Map guys, tau kan?

Peta empati empathy map adalah sebuah alat yang dapat membantu kita untuk menganalisa  bagaimana kita bisa mengetahui apa yang dirasakan, apa yang dipikirkan, dan apa yang dilakukan pelanggan kita. Hal ini bisa dilakukan melalui studi literatur tentang perilaku pelanggan atau melalui survey dan observasi.

Peta Empati membuat kita mampu menyatukan seluruh data dan insightawal yang kita dapatkan. Hasil dari pemetaan empati ini akan menjadi sumber yang berharga pada saat nanti kita membuat user personal

Peta Empati terdiri dari lima area yang mewakili elemen komunikasi calon pengguna:

  • Apa yang mereka pikirkan.
  • Apa yang mereka rasakan.
  • Apa yang mereka dengar.
  • Apa yang mereka ucapkan.
  • Apa yang mereka lakukan.

Menentukan apa yang calon pengguna ucapkan dan lakukan adalah mudah. Dari observasi dan interview kita akan mendapatkan datanya. Namun, untuk menentukan apa yang mereka pikirkan dan rasakan memerlukan analisis yang lebih mendalam.

Pertanyaan yang ada dalam empathy map memang sekilas terlihat sederhana, namun ketika Anda mencoba memahami kebutuhan pelanggan secara cermat dan detail maka bisnis yang Anda jalankan akan berjalan sesuai dengan target pasar yang digunakan. Banyak diantara pengusaha yang terpaksa gulung tikar ditengah jalan karena barang atau jasa yang ditawarkan tidak lagi dibutuhkan oleh pasar, sehingga sangat penting bagi Anda yang menjalankan bisnis untuk selalu update terhadap kebutuhan pelanggan. Mari gunakan empathy map sebagai alat bantu pemetaan bisnis pelanggan!

Akhirnya setelah hampir 2,5 jam berdiskusi, berbagi info dan saling mengisi kami sudah mendaptkan draft dan rincian data apa yang harus di dapatkan dari survey yang akan di mulai kamis besok.

Semoga bermanfaat.

Post a comment