Gempa Palu, Hoaks dan Penjarahan

Gempa yang meluluhlantakkan Palu, Donggala dan Sigi jumat lalu memberikan duka yang mendalam bagi bangsa ini. Ribuan manusia meregang nyawa terbawa oleh arus laut yang kejam, Tsunami, tertimbun oleh reruntuhan bangunan dan bahkan ada lumpur yang menggulung dengan ganasnya.

Gempa yang oleh BMKG di sebut berskala 7.7 Skala Richter walupun akhirnya direvisi menjadi 7.4 skala Richter.

Gempa sulteng membuat istilah Palu – koro yang selama ini hanya familiar di telinga para peneliti dan penggiat geologi dan gempa menjadi pengetahuan yang hampir di ketahui oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Gempa palu yang oleh dr. Eka Erwansyah salah satu relawan medis Unhas sebagai bencana yang sungguh sangat luar biasa yang disebabkan oleh 3 pembunuh, Gempa, Tsunami dan lumpur.

Air mata tertumpah, hati terasa tersayat kehilangan sanak saudara. Anak kehilangan ibunya, kakak kehilangan adiknya, suami kehilangan istrinya dan begitupun sebaliknya menjadi warna-warni bencana gempa bumi di Palu.

Gempa palu memberikan pelajaran bahwa manusia tidak dapat melakukan apa-apa, ketika Tuhan, Sang Pencipta Langit dan bumi berkehendak untuk mendatangkan musibah.

Bumi digetarkan, laut di hempaskan dan tanah dijalankan adalah sebuah fenomena yang jarang terjadi di Indonesia.

Para ahli boleh berteori setinggi langit, namun kenyataan berbeda dengan teori yang di pahami oleh ilmu pengetahuan. Manusia terbatas ilmunya. Tuhan melalui gempa memberikan teguran kecongkakan manusia.

Hoaks yang tak terbendung

Hoaks menurut KBRI berarti berita tidak benar, berita bohong. Media social menjadi kumpulan berita – berita sampah yang terkait gempa sebagai wujud kepanikan masyarakat.

Banyak berita benar tentang gempa palu yang diberitakan via medsos. Jumlah korban, titik bencana yang parah, relawan yang bergerak kelapangan, proses evakuasi korban bencana dan banyak hal lainnya tentunya menjadi nilai positif penggunaan medsos sebagai bentuk diseminasi berita kepada masyarakat di luar palu terkait kondisi yang sebenarnya terjadi di Palu.

Namun sebaliknya info – info hoaks memenuhi beranda media social pasca terjadinya bencana mematikan di Palu dan Donggala. Isu akan terjadinya Tsunami dan gempa susulan yang lebih besar telah membuat banyak manusia di luar Palu bersegera melakukan evakuasi ke tempat – tempat yang di anggap aman.

Terkait dengan pemberitaan gempa ini, seyogyanya pemerintah dapat hadir dengan memberikan informasi update detik by detik layaknya para citizen report di medsos. Sumber berita yang terpercaya seyogyanya akan dapat memberikan ketenangan kepada masyarakat.

Penjarahan oleh Korban Gempa

Penjarahan yang dilakukan oleh oknum korban gempa, sudah barang tentu menjadi persoalan yang segera perlu di tuntaskan oleh pemerintah untuk menjamin tidak terjadinya kerusakan yang lebih jelas.

Warga palu menurut hemat penulis adalah warga yang bermental baik, akhlaknya luar biasa. Jadi saya kurang percaya jika terjadi penjarahan yang dilakukan oleh warga.

Isu lain yang perlu di manage dengan baik oleh pemerintah adalah kecemburuan social. Bantuan yang hanya bertumpuk pada beberapa titik lokasi tertentu membuat masyarakat yang belum tersentuh bantuan untuk mengambil inisiatif dengan meminta sedikit kasar kepada relawan yang mengirimkan bantuan ke Palu.

Bertahan hidup dari kelaparan istri dan anak mungkin jauh lebih berat dari bencana gempa itu sendiri.

So, jangan terlalu mudah menyebarkan berita hoaks, jangan terlalu cepat menjustice mereka sebagai penjarah.

Mereka manusia yang kesulitan, kelaparan. Kalo anda berada di posisi mereka, apa yang akan anda lakukan?

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *