Cerita Rego di Kelas Inspirasi Polman

KELAS INSPIRASI SULAWESI BARAT – POLEWALI MANDAR – 9 JUNI 2014

rego, arsitek – kelompok 6, SDN 035 desa Bussu, kecamatan Tapango

…..Indonesia Raya, Merdeka, merdeka, Tanahku, neg’riku yang kucinta!. Indonesia Raya, Merdeka, merdeka, Hiduplah Indonesia Raya…..

[ refrain lagu INDONESIA RAYA – pencipta Wage Rudolf Supratman ]

Buat saya, rasanya hanya lagu Indonesia Raya saja yang selalu dapat membuat tenggorokkan ini tercekat dan susah mengeluarkan suara untuk menyanyikannya. Apakah ini rasa bangga yang amat sangat? Saya tidak tau. Namun yang jelas, saya sangat bangga sebagai bangsa Indonesia.

Saya merasa cukup beruntung, karena pekerjaan yang ditekuni, pernah ‘membawa’ saya melihat beberapa tempat di bumi ini. Namun sepertinya saya kurang beruntung, karena justru belum sempat melihat Indonesia secara keseluruhan.

Berangkat dari keinginan ini, maka saya berencana untuk menyempatkan diri mengunjungi daerah-daerah di Indonesia. Akan tetapi ketika direncanakan dan dipikirkan kembali, timbul pertanyaan: setelah mengunjungi dan melihat, lalu apa?

Pada bulan Mei 2014 lalu, seorang karyawan kantor minta ijin tidak masuk kantor karena akan mengikuti Kelas Inspirasi di Padang, Sumatra Barat. Setelah saya cari tau apa itu Kelas Inspirasi, timbul pemikiran dan jawaban atas pertanyaan saya tadi. Mengapa saya tidak mengunjungi dan melihat Indonesia sambil menjadi relawan Kelas Inspirasi.

Tanpa proses yang cukup lama, saya mendaftar melalui website Kelas Inspirasi di dua tempat sekaligus, Mamuju dan Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Karena begitu inginnya terpilih sebagai relawan, saya ‘nekat’ mendaftar di dua kota yang sebenarnya mengadakan kegiatan ini pada tanggal yang sama.

Pada tanggal 5 Juni 2014, saya mendapat SMS bahwa saya terdaftar sebagai relawan di Polewali Mandar, Sulawesi Barat dan saya segera memastikan keikutsertaan saya.

Pada tanggal 6 Juni 2014, saya mendapat email bahwa saya terdaftar (juga) sebagai relawan di Mamuju, Sulawesi Barat. Namun karena saya sudah memastikan di Polewali Mandar lebih dahulu, maka dengan berat hati saya mengundurkan diri dari Mamuju.

Sebenarnya saya berharap kedua kota ini melakukan kegiatan Kelas Inspirasi pada hari yang berbeda.

 

…..Sungguh Indah Tanah Air Beta. Tiada Bandingnya Di Dunia. Karya Indah Tuhan Maha Kuasa. Bagi Bangsa Yang Memujinya…..

 

[ bait 2 lagu INDONESIA PUSAKA – pencipta Ismai Marzuki ]

 

Kalau bukan karena Kelas Inspirasi, saya mungkin tidak akan pernah tahu ada tempat (kota) yang bernama Polewali Mandar di Indonesia.

Di masa sekarang, tidak ada kata tidak tahu dan tidak bisa. Semua bisa dilacak, dipelajari, dan ditelusuri di dunia maya. Begitu pula dengan bagaimana cara mencapai Polewali Mandar dari Jakarta. Semua informasi sudah ada hanya tinggal dikumpulkan dan dilaksanaan.

Pada hari Sabtu tanggal 7 Juni 2014 pagi, saya mulai berangkat dari tempat tinggal menuju bandara Soekarno Hatta untuk menggunakan pesawat pukul 13.00 ke Makassar. Menurut informasi, sesampainya di Makassar saya dapat lanjutkan perjalanan ke Polewali Mandar dengan Bis atau ‘panther’. Saya memutuskan untuk menggunakan bis saja karena saya tidak tahu dan yakin dengan jenis transport ;panther’.

Pukul 16.30 waktu Makassar, saya mendarat dan melanjutkan dengan taksi ke terminal bis. Jadwal bis yang ke Polewali Mandar adalah jam 21.00 jadi saya harus menunggu.

Tepat waktu yang dijadwalkan, bis berangkat. Di dalam bis, saya berkenalan dengan teman duduk sebelah saya. Beliau baru dari penugasan di Bandung dan akan pulang ke Mamuju. Setelah berbicara banyak hal dan hari juga makin malam, kami mulai tertidur di dalam bis yang cukup nyaman. Sesekali saya terbangun karena ada cahaya lampu. Terakhir kali saya terbangun, teman disebelah saya juga terjaga. Beliau kaget dan memberi tahu saya bahwa ini sudah di Majene dan Polewali Mandar sudah terlewat cukup jauh. Saya langung beranjak dari tempat duduk ke kondektur bis dan meminta untuk turun di Majene saja. Pada waktu itu, jam menunjukan pukul 4.00 pagi, hari Minggu.

Sekali lagi, kalau bukan karena Kelas Inspirasi dan ‘nyasar’, saya mungkin tidak akan pernah tau ada tempat (kota) yang bernama Majene di Indonesia.

Setelah turun dari bis, saya berjalan menuju sebuah mini market yang buka 24 jam di dekat situ. Saya lihat para pegawai sedang sibuk memasang tenda di luar toko. Saya menegur mereka dan menanyakan cara untuk mencapai Polewali Mandar dari situ. Ada beberapa pilhan, naik bis, ‘panther’, atau pete-pete (angkot). ‘Panther’ dan pete-pete baru beroperasi sekitar jam 7.00 pagi. Sedangkan bis sewaktu-waktu ada yang lewat dan mungkin bersedia mengangkut penumpang tambahan.

Sambil berisirahat, saya mencoba melihat posisi saya di GPS yang ada di telepon genggam. Ternyata saya terlewat sekitar 50km dari Polewali Mandar. Lumayan jauh.

Para pegawai mini market ini sangat baik hati. Hampir setiap bis yang lewat, mereka coba berhentikan dan tanyakan kesediaannya untuk mengangkut saya. Sayangnya tidak ada yang mau karena dianggap jaraknya terlalu dekat.

Akhirnya saya memutuskan untuk menunggu hari agak terang untuk melanjutkan perjalanan. Sambil saya beristirahat, tiba-tiba salah satu pegawai mini market tersebut menawarkan untuk mengantarkan saya dengan motornya. Dengan motor, 50km perjalanan akan memakan waktu sekitar 1 jam.

Jadilah akhirnya pada pukul 5.00 pagi, saya membonceng motor dari Majene menuju Polewali Mandar.

Dalam gelapnya dini hari, saya membayangkan, sepertinya pemandangan menuju Polewali Mandar ini pasti indah. Di atas peta, jalan ini agak menyusur tepi laut, jadi harusnya banyak yang bisa dinikmati. Namun sayang, pada waktu itu masih gelap. Di dalam gelap, saya melihat ke langit. Di langit begitu banyak bintang bertaburan. Banyak sekali. Pemandangan yang tidak pernah saya lihat di Jakarta.

Indahnya Indonesia….

Sekitar pukul 6.00 pagi, hari Minggu, akhirnya saya sampai di Polewali Mandar

 

Oh, ibu dan ayah, selamat pagi. Kupergi sekolah sampai kan nanti

Selamat belajar nak penuh semangat. Rajinlah selalu tentu kau dapat. Hormati gurumu sayangi teman. Itulah tandanya kau murid budiman

[ lagu PERGI SEKOLAH – pencipta Ibu Sud ]

 

Akhirnya tiba juga hari inspirasi, Senin, 9 Juni 2014. Satu hari sebelumnya para relawan diberikan arahan dan dibagikan kelompok oleh panitia. Saya mendapat kelompok 6 di SDN 035 desa Bussu, kecamatan Tapango bersama 4 relawan lain. Jaraknya sekitar 1 jam dari Kantor Bupati ke arah atas bukit dengan motor.

Kami ditugaskan untuk masuk ke kelas 2, 3, 4, 5 dan 6 dengan masing-masing kelas diberi jatah 25 menit.

Sebenarnya saya agak ragu apakah anak-anak SD ini tahu dengan profesi saya yaitu arsitek. Jika tidak tahu, maka saya harus mulai dengan menjelaskan apakah arsitek itu sebelum menjelaskan bagaimana menjadi seorang arsitek.

Ternyata benar, semua anak-anak tidak tahu apa arsitek itu. Bahkan mereka tidak kenal kata arsitek. Hanya ada satu orang di kelas 4 yang tahu arsitek sebagai orang yang suka menggambar.

Saya memulai penjelaskan secara sederhana tentang arsitek dan dilanjutkan dengan permainan ‘terbang keliling dunia’. Saya memang sudah menyiapkan alat peraga berupa gambar-gambar bangunan dari berbagai tempat di Indonesia dan dunia. Satu anak, secara bergantian, saya pilih untuk menjadi pilot untuk ‘menerbangkan’ satu kelas ke tempat lokasi tempat bangunan yang ada di gambar tersebut dengan diiringi lagu-lagu. Kelas menjadi meriah.

Ternyata, 25 menit itu terasa sangat lama buat saya yang belum pernah berinteraksi sebagai ‘pengajar’ anak-anak SD. Ketika berbicara di depan kelas, selalu terbayang-bayang kata-kata yang pernah saya baca di website Kelas Inspirasi :

Jika Anda sekarang berpikir bahwa mempertanggungjawabkan hasil kerja di depan dewan direktur adalah pengalaman presentasi paling menantang, cobalah untuk menjelaskan apa yang Anda kerjakan sehari-hari di depan 40-an murid-murid SD.  Anda akan berpikir ulang!

Yang pasti, baju saya basah karena keringat. Salut untuk para guru kita.

Pada acara penutupan di lapangan sekolah, saya selalu berusaha untuk berbaur dengan anak-anak dalam barisan. Mereka sangat senang didekati dan diajak ‘ngobrol’. Layaknya anak-anak,mereka sangat mudah akrab, seakan sudah mengenal sejak lama.

Yang paling mengharukan adalah ketika akan pulang, anak-anak menyempatkan mendekati saya dan saling berebut mencium tangan sebagai tanda pamit. Mudah-mudahan ini bukan pamit selamat tinggal tapi pamit sampai bertemu lagi.

Setelah beristirahat dan berbincang-bincang dengan guru setempat. Akhirnya kami bersiap pulang. Sebelum sampai ke tempat kami memarkir motor, ternyata ada beberapa anak-anak yang kembali ke sekolah setelah berganti baju. Salah satu diantaranya menyapa saya, “Pak Rego, sampai ketemu lagi ya…”.

…..Indonesia, tanah berseri, Tanah yang aku sayangi, Marilah kita berjanji, Indonesia abadi.

S’lamatlah rakyatnya, S’lamatlah putranya, Pulaunya, lautnya, semuanya, Majulah Neg’rinya, Majulah pandunya, Untuk Indonesia Raya.

[ bait 3 lagu INDONESIA RAYA – pencipta Wage Rudolf Supratman ]

Saat ini saya sudah di Jakarta. Sudah memulai segala rutinitas. Sebelum pulang, para relawan sudah saling bertukar media komunikasi dan media sosial.

Akun Facebook saya tiba-tiba bertambah banyak kawan yang berada di Sulawesi Barat. Baik para relawan dan panitia di Polewali Mandar, atau kawan lain yang belum pernah bertemu. Banyak foto, video , dan komentar yang diunggah ke Facebook.

Foto-fotonya menyenangkan, video-videonya mengharukan, komentar-komentarnya membanggakan. Namun kembali saya bertanya pada diri sendiri. Lalu apa? Apa saya cukup bermanfaat untuk anak-anak SDN 035 desa Bussu Kecamatan Tapango?

Saya tidak pernah tau. Tapi saya berharap, ada sedikit kesan yang tertinggal di hati sedikit anak-anak di sana.

Saya bermimpi, 20 tahun lagi, ada seorang arsitek terkenal dari Indonesia yang berkata, “Saya menjadi arsitek karena dulu ada orang botak mengaku dirinya sebagai arsitek dari Jakarta dan datang ke SD saya di desa Bussu, kecamatan Tapango, Polewali Mandar, Sulawesi Barat”.

…..Di Sana Tempat Lahir Beta. Dibuai Di Besarkan Bunda. Tempat Berlindung Di Hari Tua. Sampai Akhir Menutup Mata.

[ refrain bait 1 lagu INDONESIA PUSAKA – pencipta Ismai Marzuki ]


Terima kasih untuk Panitia Kelas Inspirasi Sulbar – Mamuju dan Polewali Mandar, para Relawan, para Guru dan para murid SDN 035 desa Bussu kecamatan Tapango, dan karyawan Indomaret, Majene yang telah membantu kelancaran saya menjadi relawan Kelas Inspirasi Sulbar – Polewali Mandar.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *